JARINGAN CITRA NUSANTARA
MERAJUT “BHINNEKA TUNGGAL IKA” SEBAGAI WAHANA DAN WACANA PEMBELAJARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA AGAR TERJALIN RASA SALING-TAHU, SALING-NIKMATI, SALING PEDULI, DAN SALING-BUTUHKAN, DARI BERBAGAI KELOMPOK SOSIAL BANGSA YANG SEKARANG CENDERUNG BERBINGKAI-BINGKAI
Selasa, 22 Maret 2011
fozarts management: utk berbenah benak..
fozarts management: utk berbenah benak..: "Asuransi Kesehatan untuk Seniman, Perlukah? Selasa, 6 Oktober 2009 | 14:57 WIB Oleh M DJUPRI Gubernur Dr Soekarwo atau Pakde Karwo ' sapaa..."
Minggu, 20 Maret 2011
Delapan Tokoh Terima PWI Award 2011....
NASIONAL - HUMANIORA
Sabtu, 19 Maret 2011 , 06:16:00
Delapan Tokoh Terima PWI Award
SURABAYA -- Suasana Aula Grahadi kemarin tampak berbeda. Serombongan tokoh nasional datang untuk menghadiri acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dibarengkan dengan peringatan dua tahun kepempinan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai gubernur-wagub Jatim.
Tercatat sebanyak delapan tokoh menerima PWI Award. Yakni, Jusuf Kalla (ketua umum PMI), Andi Alfian Malarangeng (menpora), Anas Urbaningrum (ketua umum Partai Demokrat), Dahlan Iskan (dirut PLN), Soekarwo (gubernur Jatim), Priyo Suprobo (rektor ITS), Achmad Fauzi (ketua Dewan Kesenian Jatim), dan Sahat Tua Simanjutak (ketua pengprov Pertina dan juga anggota DPRD Jatim).
Selain itu, PWI juga memberikan sejumlah penghargaan foto dan tulis dalam Prapanca Award. Juga, ada sejumlah penghargaan khusus, yang antara lain diberikan kepada striker Persema dan timnas Indonesia, Irfan Bachdim.
Dalam sambutannya, Ketua PWI Margiono sempat melontarkan candaan ke Soekarwo. "Lapor Pak Gubernur, semua warga Jatim yang di Jakarta baik-baik saja. Ada yang jadi ketua partai, dan ada yang jadi dirut PLN," katanya, yang disambut senyum oleh Soekarwo.
Ketika didapuk memberi sambutan setelah menerima penghargaan, Dahlan bicara soal banyak hal. Diantaranya adalah optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Sepuluh tahun lalu, pendapatan per kapita di Indonesia hanya USD 1.200. Tapi sekarang USD 3.200, dan bila sepuluh tahun lalu ada ahli ekonomi yang memprediksi 10 tahun lagi pendapatan per kapita sebesar ini, pasti ditertawakan," ucap pria kelahiran Magetan tersebut.
Dahlan optimis bahwa akhir tahun ini, dengan peningkatan pendapatan per kapita seperti ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalahkan Belanda. "Bahkan sepuluh tahun lagi mencapai USD 6.000 bahkan USD 9.000," katanya.
Selanjutnya tokoh yang didapuk mendapat penghargaan karena dianggap pembawa perubahan di PLN tersebut bicara soal masalah setrum. Tepat di hari ke 414-nya memimpin perusahaan setrum plat merah tersebut, Dahlan menguraikan kekhawatirannya. Karena ada penurunan debet air, maka listrik di Jawa mengalami kehilangan 1.300 Megawatt. "Suasana kebatinan kami sangat khawatir. Selama ini tidak ada byar pet, karena kami kerja ekstra keras untuk memastikan tidak ada pemadaman," tuturnya.
Selain itu, Dahlan mengungkapkan krisis listrik terjadi di Kangean, Bawean, dan Gili-Ketapang. "Sebenarnya saya tidak pantas merasa mendapat penghargaan ini. Karena masih ada krisis listrik di sejumlah daerah di Jawa. Tapi, kami harapkan akhir tahun ini sudah kami tuntaskan," tambahnya.
Di bagian lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang menerima penghargaan di bidang politik mengatakan optimisme juga terlihat dalam bidang politik. "Akan semakin segar, dan kedewasaan masyarakat akan matang," katanya. Dengan nada merendah, Anas mengatakan bahwa dirinya masih sangat muda dan hijau dalam bidang politik. "Ibarat buku, saya ini masih di pembukaan, sementara bapak Jusuf Kalla sudah berada di kesimpulan," tambahnya.
Sementara itu, Soekarwo dipilih karena dianggap berhasil membangun tata perekonomian Jatim sehingga pertumbuhan ekonomi Jatim melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. (ano/agm)
Sabtu, 19 Maret 2011 , 06:16:00
Delapan Tokoh Terima PWI Award
SURABAYA -- Suasana Aula Grahadi kemarin tampak berbeda. Serombongan tokoh nasional datang untuk menghadiri acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dibarengkan dengan peringatan dua tahun kepempinan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai gubernur-wagub Jatim.
Tercatat sebanyak delapan tokoh menerima PWI Award. Yakni, Jusuf Kalla (ketua umum PMI), Andi Alfian Malarangeng (menpora), Anas Urbaningrum (ketua umum Partai Demokrat), Dahlan Iskan (dirut PLN), Soekarwo (gubernur Jatim), Priyo Suprobo (rektor ITS), Achmad Fauzi (ketua Dewan Kesenian Jatim), dan Sahat Tua Simanjutak (ketua pengprov Pertina dan juga anggota DPRD Jatim).
Selain itu, PWI juga memberikan sejumlah penghargaan foto dan tulis dalam Prapanca Award. Juga, ada sejumlah penghargaan khusus, yang antara lain diberikan kepada striker Persema dan timnas Indonesia, Irfan Bachdim.
Dalam sambutannya, Ketua PWI Margiono sempat melontarkan candaan ke Soekarwo. "Lapor Pak Gubernur, semua warga Jatim yang di Jakarta baik-baik saja. Ada yang jadi ketua partai, dan ada yang jadi dirut PLN," katanya, yang disambut senyum oleh Soekarwo.
Ketika didapuk memberi sambutan setelah menerima penghargaan, Dahlan bicara soal banyak hal. Diantaranya adalah optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Sepuluh tahun lalu, pendapatan per kapita di Indonesia hanya USD 1.200. Tapi sekarang USD 3.200, dan bila sepuluh tahun lalu ada ahli ekonomi yang memprediksi 10 tahun lagi pendapatan per kapita sebesar ini, pasti ditertawakan," ucap pria kelahiran Magetan tersebut.
Dahlan optimis bahwa akhir tahun ini, dengan peningkatan pendapatan per kapita seperti ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalahkan Belanda. "Bahkan sepuluh tahun lagi mencapai USD 6.000 bahkan USD 9.000," katanya.
Selanjutnya tokoh yang didapuk mendapat penghargaan karena dianggap pembawa perubahan di PLN tersebut bicara soal masalah setrum. Tepat di hari ke 414-nya memimpin perusahaan setrum plat merah tersebut, Dahlan menguraikan kekhawatirannya. Karena ada penurunan debet air, maka listrik di Jawa mengalami kehilangan 1.300 Megawatt. "Suasana kebatinan kami sangat khawatir. Selama ini tidak ada byar pet, karena kami kerja ekstra keras untuk memastikan tidak ada pemadaman," tuturnya.
Selain itu, Dahlan mengungkapkan krisis listrik terjadi di Kangean, Bawean, dan Gili-Ketapang. "Sebenarnya saya tidak pantas merasa mendapat penghargaan ini. Karena masih ada krisis listrik di sejumlah daerah di Jawa. Tapi, kami harapkan akhir tahun ini sudah kami tuntaskan," tambahnya.
Di bagian lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang menerima penghargaan di bidang politik mengatakan optimisme juga terlihat dalam bidang politik. "Akan semakin segar, dan kedewasaan masyarakat akan matang," katanya. Dengan nada merendah, Anas mengatakan bahwa dirinya masih sangat muda dan hijau dalam bidang politik. "Ibarat buku, saya ini masih di pembukaan, sementara bapak Jusuf Kalla sudah berada di kesimpulan," tambahnya.
Sementara itu, Soekarwo dipilih karena dianggap berhasil membangun tata perekonomian Jatim sehingga pertumbuhan ekonomi Jatim melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. (ano/agm)
Senin, 14 Februari 2011
Kamis, 10 Februari 2011
utk berbenah benak..
Asuransi Kesehatan untuk Seniman, Perlukah?
Selasa, 6 Oktober 2009 | 14:57 WIB
Oleh M DJUPRI
Gubernur Dr Soekarwo atau Pakde Karwo " sapaan akrabnya" saat membacakan sambutan pada acara silaturahim dan pemberian penghargaan kepada 10 budayawan dan seniman serta tali asih kepada 300 seniman se- Jatim di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Surabaya, Rabu (9/9), melontarkan gagasan perihal pentingnya asuransi kesehatan untuk seniman. Ide yang dikemukakan Pakde Karwo itu muncul spontan, di luar teks pidato, karena mendapat bisikan Bude Karwo, Ny Nina Kirana Soekarwo, yang hadir mendampingi setelah melihat pelawak Srimulat, Kentus, yang berjalan tampak diglak-digluk karena mungkin terserang asam urat.
Gubernur memberikan beberapa alasan tentang pentingnya asuransi kesehatan terhadap seniman. Pertama, peranan kesenian dalam kehidupan berbangsa memiliki arti penting sebagai bentuk nasionalisme. Kedua, keberadaan kesenian tidak kalah penting dibandingkan pembangunan fisik. Ketiga, seni mampu membersihkan jiwa manusia dan menjadikan kita lahir kembali sebagai manusia. Pakde Karwo juga mengutip pidato Presiden AS John F Kennedy bahwa apabila politik itu kotor, maka kesenian mampu membersihkannya. Juga mencuplik sasanti Jawa bahwa seni mampu membasuh jiwa.
Tentang perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman, menurut Gubernur Jatim, merupakan komitmen pasangan Pakde Karwo dan Gus Ipul (Saifullah Yusuf) bahwa Pemerintah Provinsi Jatim memerhatikan kehidupan masyarakat Jatim, termasuk seniman. Ia menganalogikan dengan program sekolah gratis sembilan tahun di Jatim yang menelan anggaran Rp 628 miliar pada tahun 2009-1010. Jika pemerintah mampu membantu biaya sekolah siswa dari keluarga kurang mampu dan gaji guru, hal yang sama tentu dapat dilakukan terhadap seniman.
Pemikiran tentang asuransi kesehatan untuk seniman dapat dilakukan di Puskesmas dan balai pengobatan di Jatim yang berdekatan dengan domisili seniman. Pakde Karwo menjelaskan, "Kalau ada seniman yang sakit batuk atau terkena asam urat, misalnya, bisa berobat ke puskesmas". Sambutan gubernur itu secara spontan mendapat tepukan tangan ratusan seniman yang hadir dalam silaturahmi.
Gagasan Pakde Karwo saya anggap orisinal dan baru kali pertama dikemukakan oleh seorang gubernur. Barangkali gubernur-gubernur lainnya di Indonesia belum berpikir ke arah sana. Namun, gagasan orisinal itu perlu dicermati. Dicermati dengan mencari rujukan berdasarkan hukum sebagai landasan operasionalisasi perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti bahwa pemerintah tidak mengatur urusan pribadi kehidupan seniman, termasuk masalah kesehatannya.
Rancangan Undang-Undang tentang Kesenian belum pernah dibahas oleh anggota legislatif di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Kepedulian Gubernur Jatim terhadap kesehatan seniman merupakan wacana segar yang memungkinkan direalisasikan di era otonomi daerah yang berjalan sejak tahun 2000. Dalam penjelasan Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah "yang diperbarui pada tahun 2000" antara lain disebutkan bahwa kepala daerah sebagai pengayom masyarakat harus mampu berpikir, bertindak, dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi, golongan, dan aliran.
Maka gagasan Gubernur Jatim itu sejalan dengan yang diamanatkan dalam penjelasan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, gagasan asuransi kesehatan untuk seniman perlu tindak lanjut dan mendapat tanggapan positif, terutama dari anggota DPRD Jatim serta instansi terkait lainnya, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dan pihak manajemen rumah sakit umum milik Pemerintah Provinsi Jatim yang tersebar di daerah kota dan kabupaten. Jika pihak legislatif dan eksekutif memiliki kemauan politik dalam menanggapi gagasan gubernur, cepat atau lambat tentu dapat terealisasikan secara bertahap, pelan- pelan tapi pasti.
Mengingat masa bakti Gubernur Jatim masih kurang empat setengah tahun ke depan, hingga tahun 2014 mendatang, kemungkinan gagasan itu bisa terwujud. Untuk dapat merealisasikan gagasan asuransi kesehatan untuk seniman itu memerlukan pembahasan secara matang antarinstansi dan penggodokan dalam sidang di gedung DPRD yang notabene adalah wakil rakyat dan dituangkan dalam peraturan daerah (perda) sehingga memiliki payung hukum.
Kendati saat ini di tengah masyarakat sebenarnya sudah dipraktikkan asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (Askin) yangmengatur pengobatan gratis bagi keluarga tidak mampu di rumah sakit pemerintah. Perlukah asuransi kesehatan untuk seniman? Kita, barangkali, belum memiliki data akurat tentang berapa jumlah seniman di antara 36 juta jiwa penduduk Jatim. Jika diasumsikan bahwa seniman Jatim sekitar 1 persen dari jumlah penduduk, sedikitnya terdapat 3,6 juta jiwa peyandang predikat seniman. Mengingat di Provinsi Jatim memiliki aneka ragam kesenian tradisi yang tersebar mulai dari Banyuwangi sampai Magetan dan dari Sumenep sampai Pacitan.
Kesenian tradisi itu gaya Mataraman, Osing, budaya arek, pedalungan, pesisir mapun pedalaman. Mulai dari tari gandrung, kendang jimbe, kuntulan, wayang krucil, wayang beber, wayang jekdong, tari topeng, reyog, ludruk, macapat, kentrung, kesenian bernuansa Islam, maupun seni modern seperti teater, seni rupa, musik, paduan suara, dan lainnya. Di 38 daerah kota dan kabupaten se-Jatim memiliki andalan kesenian tradisi maupun modern yang sampai sekarang tetap dilestarikan para seniman. Mengingat bahwa menjadi seniman atau pekerja seni adalah profesi, seniman adalah anggota masyarakat seperti profesi lainnya, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang, dan lainnya.
Di awal tulisan ini disebutkan, ars longa vita brevis atau seni itu panjang dan hidup itu pendek. Maka, asuransi kesehatan untuk seniman kiranya perlu direalisasikan, setelah Pemerintah Provinsi Jatim terlebih dulu memprioritaskan masalah mengatasi jumlah angka kemiskinan dan pengangguran di Jatim.
M DJUPRI Seniman dan Penulis, Tinggal di Malang
Selasa, 6 Oktober 2009 | 14:57 WIB
Oleh M DJUPRI
Gubernur Dr Soekarwo atau Pakde Karwo " sapaan akrabnya" saat membacakan sambutan pada acara silaturahim dan pemberian penghargaan kepada 10 budayawan dan seniman serta tali asih kepada 300 seniman se- Jatim di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Surabaya, Rabu (9/9), melontarkan gagasan perihal pentingnya asuransi kesehatan untuk seniman. Ide yang dikemukakan Pakde Karwo itu muncul spontan, di luar teks pidato, karena mendapat bisikan Bude Karwo, Ny Nina Kirana Soekarwo, yang hadir mendampingi setelah melihat pelawak Srimulat, Kentus, yang berjalan tampak diglak-digluk karena mungkin terserang asam urat.
Gubernur memberikan beberapa alasan tentang pentingnya asuransi kesehatan terhadap seniman. Pertama, peranan kesenian dalam kehidupan berbangsa memiliki arti penting sebagai bentuk nasionalisme. Kedua, keberadaan kesenian tidak kalah penting dibandingkan pembangunan fisik. Ketiga, seni mampu membersihkan jiwa manusia dan menjadikan kita lahir kembali sebagai manusia. Pakde Karwo juga mengutip pidato Presiden AS John F Kennedy bahwa apabila politik itu kotor, maka kesenian mampu membersihkannya. Juga mencuplik sasanti Jawa bahwa seni mampu membasuh jiwa.
Tentang perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman, menurut Gubernur Jatim, merupakan komitmen pasangan Pakde Karwo dan Gus Ipul (Saifullah Yusuf) bahwa Pemerintah Provinsi Jatim memerhatikan kehidupan masyarakat Jatim, termasuk seniman. Ia menganalogikan dengan program sekolah gratis sembilan tahun di Jatim yang menelan anggaran Rp 628 miliar pada tahun 2009-1010. Jika pemerintah mampu membantu biaya sekolah siswa dari keluarga kurang mampu dan gaji guru, hal yang sama tentu dapat dilakukan terhadap seniman.
Pemikiran tentang asuransi kesehatan untuk seniman dapat dilakukan di Puskesmas dan balai pengobatan di Jatim yang berdekatan dengan domisili seniman. Pakde Karwo menjelaskan, "Kalau ada seniman yang sakit batuk atau terkena asam urat, misalnya, bisa berobat ke puskesmas". Sambutan gubernur itu secara spontan mendapat tepukan tangan ratusan seniman yang hadir dalam silaturahmi.
Gagasan Pakde Karwo saya anggap orisinal dan baru kali pertama dikemukakan oleh seorang gubernur. Barangkali gubernur-gubernur lainnya di Indonesia belum berpikir ke arah sana. Namun, gagasan orisinal itu perlu dicermati. Dicermati dengan mencari rujukan berdasarkan hukum sebagai landasan operasionalisasi perlunya pemberian asuransi kesehatan untuk seniman. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti bahwa pemerintah tidak mengatur urusan pribadi kehidupan seniman, termasuk masalah kesehatannya.
Rancangan Undang-Undang tentang Kesenian belum pernah dibahas oleh anggota legislatif di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Kepedulian Gubernur Jatim terhadap kesehatan seniman merupakan wacana segar yang memungkinkan direalisasikan di era otonomi daerah yang berjalan sejak tahun 2000. Dalam penjelasan Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah "yang diperbarui pada tahun 2000" antara lain disebutkan bahwa kepala daerah sebagai pengayom masyarakat harus mampu berpikir, bertindak, dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi, golongan, dan aliran.
Maka gagasan Gubernur Jatim itu sejalan dengan yang diamanatkan dalam penjelasan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, gagasan asuransi kesehatan untuk seniman perlu tindak lanjut dan mendapat tanggapan positif, terutama dari anggota DPRD Jatim serta instansi terkait lainnya, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dan pihak manajemen rumah sakit umum milik Pemerintah Provinsi Jatim yang tersebar di daerah kota dan kabupaten. Jika pihak legislatif dan eksekutif memiliki kemauan politik dalam menanggapi gagasan gubernur, cepat atau lambat tentu dapat terealisasikan secara bertahap, pelan- pelan tapi pasti.
Mengingat masa bakti Gubernur Jatim masih kurang empat setengah tahun ke depan, hingga tahun 2014 mendatang, kemungkinan gagasan itu bisa terwujud. Untuk dapat merealisasikan gagasan asuransi kesehatan untuk seniman itu memerlukan pembahasan secara matang antarinstansi dan penggodokan dalam sidang di gedung DPRD yang notabene adalah wakil rakyat dan dituangkan dalam peraturan daerah (perda) sehingga memiliki payung hukum.
Kendati saat ini di tengah masyarakat sebenarnya sudah dipraktikkan asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (Askin) yangmengatur pengobatan gratis bagi keluarga tidak mampu di rumah sakit pemerintah. Perlukah asuransi kesehatan untuk seniman? Kita, barangkali, belum memiliki data akurat tentang berapa jumlah seniman di antara 36 juta jiwa penduduk Jatim. Jika diasumsikan bahwa seniman Jatim sekitar 1 persen dari jumlah penduduk, sedikitnya terdapat 3,6 juta jiwa peyandang predikat seniman. Mengingat di Provinsi Jatim memiliki aneka ragam kesenian tradisi yang tersebar mulai dari Banyuwangi sampai Magetan dan dari Sumenep sampai Pacitan.
Kesenian tradisi itu gaya Mataraman, Osing, budaya arek, pedalungan, pesisir mapun pedalaman. Mulai dari tari gandrung, kendang jimbe, kuntulan, wayang krucil, wayang beber, wayang jekdong, tari topeng, reyog, ludruk, macapat, kentrung, kesenian bernuansa Islam, maupun seni modern seperti teater, seni rupa, musik, paduan suara, dan lainnya. Di 38 daerah kota dan kabupaten se-Jatim memiliki andalan kesenian tradisi maupun modern yang sampai sekarang tetap dilestarikan para seniman. Mengingat bahwa menjadi seniman atau pekerja seni adalah profesi, seniman adalah anggota masyarakat seperti profesi lainnya, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang, dan lainnya.
Di awal tulisan ini disebutkan, ars longa vita brevis atau seni itu panjang dan hidup itu pendek. Maka, asuransi kesehatan untuk seniman kiranya perlu direalisasikan, setelah Pemerintah Provinsi Jatim terlebih dulu memprioritaskan masalah mengatasi jumlah angka kemiskinan dan pengangguran di Jatim.
M DJUPRI Seniman dan Penulis, Tinggal di Malang
Sambutan DK-Jatim pada PENGHARGAAN SENI JATIM 2010
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Salam Budaya
Penghargaan Seni Jawa Timur ini diberikan setiap tahun sejak 1998 mengiringi keberadaan Dewan Kesenian Jawa Timur dan setiap tahun pula kita melakukan sebuah pembacaan, pemaknaan serta penghormatan atas jejak kreativitas, aktifitas dan capaian kualitas para pelaku kesenian di Jawa Timur. Penghargaan ini dimaksudkan sebagai pengakuan atas dedikasi dan prestasi di bidang seni yang tidak hanya diberikan kepada para seniman individual tetapi juga kepada pelaku seni tradisi yang komunal dan kepada lembaga yang peduli turut menopang kehidupan kesenian. Bahkan sejak tahun ini diberikan pula penghargaan khusus kepada Guru dan Siswa berprestasi dibidang seni.
Tentu penghargaan ini bukanlah singgasana tujuan dari pergulatan berkesenian, kehadiran karya-karya kreatif dan inovatif adalah untuk peradaban, keunggulan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan serta memberi kesejahteraan, kebahagian lahir dan batin. Perenungan, penciptaan dan pengungkapan seniman untuk dipersembahkan pada kehidupan, bukan untuk siapa, seorang atau sebagian orang. Untuk semua, untuk sesama, untuk tak sama.
Perhatian dan kesungguhan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memacu dan memicu proses kreatif tidak hanya berupa pemberian penghargaan ini saja, selain meningkatkan sarana dan prasarana, Gubernur Jawa Timur sejak tahun ini memberikan Jaminan Kesehatan khusus kepada seniman, bahkan mulai awal tahun depan UPTD. Taman Budaya Jawa Timur kembali difungsikan, agar kekayaan ragam budaya ini tidak jadi belantara yang berhukum rimba.
“Asuransi kesehatan ini diberikan bukan karena belas kasihan atau dianggap miskin, tetapi merupakan kewajiban dari pemerintah atas jasa seniman dan budayawan yang telah memberi identitas dan menjaga ketahanan budaya bangsa. Suatu wilayah dikenal bukan hanya karena letak geografisnya, tetapi justru karena identitas budayanya, dan itu diproduksi oleh seniman/budayawan” ini pernyataan Gubernur Jawa Timur yang membanggakan. Satu-satunya di Indonesia.
Atas nama masyarakat kesenian Jawa Timur kami sampaikan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas komitmen, dukungan serta simpati yang telah diberikan oleh Gubernur beserta jajaran terkait, serta kami sampaikan pula ungkapan bangga dan selamat kepada para penerima penghargaan seni tahun 2010. Semoga segala upaya dan harapan kita mendapat ridho dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warhmatullahi Wabarokatuh
Surabaya, 26 November 2010
ACHMAD FAUZI
Ketua Umum
Salam Budaya
Penghargaan Seni Jawa Timur ini diberikan setiap tahun sejak 1998 mengiringi keberadaan Dewan Kesenian Jawa Timur dan setiap tahun pula kita melakukan sebuah pembacaan, pemaknaan serta penghormatan atas jejak kreativitas, aktifitas dan capaian kualitas para pelaku kesenian di Jawa Timur. Penghargaan ini dimaksudkan sebagai pengakuan atas dedikasi dan prestasi di bidang seni yang tidak hanya diberikan kepada para seniman individual tetapi juga kepada pelaku seni tradisi yang komunal dan kepada lembaga yang peduli turut menopang kehidupan kesenian. Bahkan sejak tahun ini diberikan pula penghargaan khusus kepada Guru dan Siswa berprestasi dibidang seni.
Tentu penghargaan ini bukanlah singgasana tujuan dari pergulatan berkesenian, kehadiran karya-karya kreatif dan inovatif adalah untuk peradaban, keunggulan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan serta memberi kesejahteraan, kebahagian lahir dan batin. Perenungan, penciptaan dan pengungkapan seniman untuk dipersembahkan pada kehidupan, bukan untuk siapa, seorang atau sebagian orang. Untuk semua, untuk sesama, untuk tak sama.
Perhatian dan kesungguhan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memacu dan memicu proses kreatif tidak hanya berupa pemberian penghargaan ini saja, selain meningkatkan sarana dan prasarana, Gubernur Jawa Timur sejak tahun ini memberikan Jaminan Kesehatan khusus kepada seniman, bahkan mulai awal tahun depan UPTD. Taman Budaya Jawa Timur kembali difungsikan, agar kekayaan ragam budaya ini tidak jadi belantara yang berhukum rimba.
“Asuransi kesehatan ini diberikan bukan karena belas kasihan atau dianggap miskin, tetapi merupakan kewajiban dari pemerintah atas jasa seniman dan budayawan yang telah memberi identitas dan menjaga ketahanan budaya bangsa. Suatu wilayah dikenal bukan hanya karena letak geografisnya, tetapi justru karena identitas budayanya, dan itu diproduksi oleh seniman/budayawan” ini pernyataan Gubernur Jawa Timur yang membanggakan. Satu-satunya di Indonesia.
Atas nama masyarakat kesenian Jawa Timur kami sampaikan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas komitmen, dukungan serta simpati yang telah diberikan oleh Gubernur beserta jajaran terkait, serta kami sampaikan pula ungkapan bangga dan selamat kepada para penerima penghargaan seni tahun 2010. Semoga segala upaya dan harapan kita mendapat ridho dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warhmatullahi Wabarokatuh
Surabaya, 26 November 2010
ACHMAD FAUZI
Ketua Umum
Minggu, 18 Juli 2010
Arts Worker: cintaku..
Arts Worker: cintaku..: "Ya Allah , jagalah dia dikala penjagaanku tak sampai padanya . sayangi dia dikala rasa sayangku tak mampu merengkuhnya dalam dekapan yg nyata..."
Kamis, 31 Desember 2009
pejuang plurarisme, demokrasi dan HAM ...
Selamat Jalan Gus...
Kamis, 31 Desember 2009 | 03:00 WIB
Jakarta, Kompas - Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, Rabu (30/12) pukul 18.45, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Kepastian meninggalnya Gus Dur disampaikan Ketua Tim Dokter Yusuf Misbah yang merawat Gus Dur sejak 26 Desember lalu di RSCM dengan didampingi Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.
Gus Dur masuk rumah sakit dalam kondisi kesehatan yang menurun setelah melakukan ziarah ke makam sejumlah ulama di Jawa Timur. Menurut Yusuf, kondisi Gus Dur sempat membaik selama perawatan. Namun, Rabu sekitar pukul 11.30, kesehatannya mendadak memburuk terkait komplikasi penyakit yang dideritanya selama ini, yaitu ginjal, diabetes, stroke, dan jantung. Pukul 18.15, tim dokter menyatakan kesehatan Gus Dur dalam kondisi kritis.
Asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto, menceritakan, Rabu pukul 10.00, ia sempat membacakan berita tentang penangkapan mantan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni di Inggris. Putri bungsunya, Inayah Wahid, menyuapinya dengan puding cokelat.
Setelah itu, Gus Dur mengeluhkan sakit pada tubuh bagian bawahnya dan minta didudukkan. Setelah dipenuhi, Gus Dur meminta didudukkan dengan kaki diayun-ayunkan sambil dipijat oleh Bambang. Selanjutnya, Gus Dur minta ditidurkan di lantai agar badannya menjadi enak.
Tim dokter mulai berdatangan dan menyiapkan sejumlah peralatan. Rekomendasi tim dokter menyebutkan Gus Dur perlu tindakan khusus sehingga dibawa ke Ruang Pacu Jantung Terpadu. Perawatan di ruang itu dilakukan secara intensif sehingga tidak boleh ditemani.
Setelah ditangani khusus, kesehatan Gus Dur kembali membaik dan sempat meminta untuk diperdengarkan buku audio (audiobook). Dengan kondisi itu dinilai menunjukkan adanya perbaikan kondisi Gus Dur.
Sekitar pukul 15.00, Bambang diberi tahu Yusuf, kondisi Gus Dur perlu diawasi serius untuk menaikkan tekanan darahnya. Pukul 17.00, tekanan darahnya tinggal 40 mmHg. Saat itulah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang.
Presiden menemui istri Gus Dur, Ny Sinta Nuriyah Wahid. Setelah itu, masuk ke ruang perawatan. Turut mendampingi Presiden adalah tim dokter dan suami putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid, Dhohir Farisi.
Yusuf menambahkan, saat Gus Dur kritis, tim dokter melakukan perawatan intensif untuk memperbaiki pernapasan Gus Dur dengan melakukan resusitasi. Dokter juga menyiapkan tindakan khusus untuk mengeluarkan darah beku di dinding pembuluh darah besar di perut (aorta abdominal). Namun, belum sempat tindakan itu dilakukan, Gus Dur wafat.
Memburuknya kondisi kesehatan Gus Dur dimulai sejak kunjungan silaturahim dan ziarah yang dilakukan pada 24 Desember lalu. Gus Dur berangkat dari Jakarta ke Semarang dengan pesawat, dilanjutkan perjalanan darat ke Rembang, Jawa Tengah, untuk menemui KH Mustofa Bisri. Dari Rembang, ia melakukan perjalanan darat ke Jombang, Jawa Timur.
Saat di Jombang itulah kondisi kesehatan Gus Dur memburuk dengan gula darahnya turun. Namun, hal itu dinilai biasa dan dengan cepat ditangani dokter di Jombang.
Dokter sempat merujuk Gus Dur dirawat di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Gus Dur tidak bersedia dirawat di rumah sakit.
Senin lalu, Gus Dur menjalani operasi gigi. Selama tiga tahun terakhir, Gus Dur rutin menjalani cuci darah tiga kali seminggu di RSCM. Cuci darah dilakukan pada Senin, Rabu, dan Jumat. Jika cuci darah rutin itu terlambat dilakukan karena kesibukannya, kondisi Gus Dur memburuk yang ditandai dengan wajah lesu dan lemas.
Pernyataan Presiden
Presiden Yudhoyono semalam menyampaikan dukacita mendalam atas nama negara, pemerintah, dan pribadi atas meninggalnya Gus Dur. Presiden minta masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang selama sepekan sebagai bentuk penghormatan dan berkabung.
Presiden memberikan pernyataan pers terkait meninggalnya Presiden Indonesia periode 1999-2001 di Kantor Presiden. Turut mendampingi antara lain Wakil Presiden Boediono.
Presiden menjelaskan, negara akan memberikan penghormatan tertinggi kepada mendiang Gus Dur dengan upacara kenegaraan untuk pemakaman yang akan dilaksanakan di Jombang, Kamis ini. Upacara akan dipimpin sendiri oleh Presiden.
Pemberangkatan jenazah dari rumah duka di Ciganjur, Kamis pagi, akan dipimpin Ketua MPR Taufik Kiemas. Jenazah akan diterbangkan melalui Surabaya.
Mantan Wapres M Jusuf Kalla juga menyatakan duka mendalam atas berpulangnya Gus Dur. ”Kita semua harus tetap menjaga semangat kebersamaan, demokrasi, dan pluralisme yang menjadi semangat almarhum,” kata Kalla.
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah A Syafii Maarif menilai, ”Kita sebagai bangsa sangat kehilangan. Gus Dur sangat berjasa bagi bangsa ini, terutama dalam konteks demokratisasi dan juga mempercepat proses mengeluarkan pengaruh militer dalam perpolitikan kita. Banyak sekali jasa beliau, terlepas dari sosoknya yang kontroversial.”
Syafii yakin ide Gus Dur tentang pluralisme dan demokrasi tidak akan pernah pupus karena banyak murid, pendukung, dan penerus yang akan melanjutkan semua ide itu. Ia juga salut dengan kebiasaan Gus Dur bersilaturahim, yang sepatutnya ditiru banyak kalangan.
Tokoh pertanian HS Dillon juga menilai Gus Dur adalah pluralis sejati dan memberi makna pada pemahaman Bhinneka Tunggal Ika. ”Pendukung tidak kenal lelah hak minoritas,” katanya.
(mzw/nta/eki/ink/dwa/day/eld/ham/dis/rik)
Langganan:
Postingan (Atom)